Minggu, 25 November 2012

BIOGRAFI TOKOH MUSLIM

Bahaya Virus Sekularisme


Bahaya Virus Sekularisme
Ini soal sekularisme, ada yang mempertanyakan bagaimana sekularisme dalam perannya, ternyata mengandung bias menjauhkan agama dari pemeluknya. Lalu bagaimana sekularisme bisa menjadi suatu keyakinan sebagaimana layaknya manusia meyakini agama. Tentu tidak lepas dari kampanye kaum sekuler yang meletakkan sekularisme sebagai dasar aktualisasi berpikir, dengan mengenyampingkan bias agama sebagi way of life, kemudian menanamkan keyakinan kalau agama adalah racun yang membius pemeluknya menjadi kalap mata dan bertindak anarkhis. Pernyataan itu sering muncul dari orang orang yang berpendapat bahwa agama adalah privat, bukan pandangan hidup, lalu menyuguhkan konsep pemikiran manusia sebagai pandangan hidup yang harus di taati, artinya sekularisme menawarkan kehendak manusia lebih sakral dari kehendak tuhan, sehingga menempatkan tuhan sebagai barang antik di musium peninggalan benda benda kuno.
Tetapi apa sekularisme , sehingga begitu kuat pandangan barat dan penganutnya membela dan memperjuangkan sekular, layaknya memperjuangkan agama? Bahkan demi sekularisme dan kontennya, mareka sanggup menggadaikan nyawanya, seperti melibatkan orang orang cerdik pandai dalam aksi aksi turun kejalan dengan berbagai cara, selain berusaha menguasai media untuk menjadi corong penyebar paham paham sekuler. Bahkan hampi semua media pencerdesan manusia diarahkan pada sekularisasi, dengan suatu target, tak ada lagi manusia yang membanggakan agama.
Sekuler artinya adalah: bersifat dunia atau kebendaan yaitu bukan bersifat
keagamaan atau kerohanian. Orang yang sekularis adalah orang yang menganut aliran filsafat yang menghendaki agar kesusilaan atau budi pekerti tidak didasarkan pada ajaran agama. Sedangkan
sekularisme adalah paham atau pandangan filsafat yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1988).
(Nah, tidak perlu kita gali jauh-jauh mengenai pengertian sekuler, sekularis dan sekularisme, karena sudah ada didepan hidung dan mata kita di Daulah Pancasila dengan UUD 1945-nya yang sekuler.
Jadi, kalau saya membahas masalah sekuler, sekularis dan sekularisme waktu
sekarang-sekarang ini, sebenarnya sudah ada dan hidup di Daulah Pancasila
tanpa disadari. Karena itu, memang tidak benar kalau ada yang mengatakan
bahwa mereka telah dibagi-bagi menjadi golongan manusia sekuler dan non
sekuler oleh orang yang berpikiran dikotomi dan tidak universal.
Justru menurut saya, karena telah dijadikannya dasar falsafah negara
pancasila yang sekuler itulah yang menyebabkan rakyat Daulah Pancasila
terbagi kedalam golongan sekularis dan non sekularis.
Jadi sebenarnya, menurut pemikiran saya, para pendiri Daulah Pancasila yang
telah berkomitment untuk menjadikan pancasila sebagai falsafah negara,
mereka itulah, baik disadari atau tidak, merupakan sumber timbulnya
sekularisme di Daulah Pancasila. )
Pancasila ternyata melahirkan keyakinan colors suatu bangsa, terpecah dalam ambisi saling mempertahankan eksitensi kelompoknya, adalah nilai sekurisme yang paling menonjol, mempertemukan anak bangsa dalam sebuah jurang pemisah yang paling dalam. Bukti bahwa Daulah Pancasila tidak mampu berbuat mengatasi kemelut bangsa, bahkan menggagas lahirnya banyak masalah kebangsaan dengan akuan berbangsa yang berbeda dalam haluan bernegara. Daulah Pancasila cerminan dari sebuah gagasan sekularisme yang gagal menyatukan kesatuan bangsa, bahkan mengantar bangsa ini dalam sebuah kencah perpecahan, mulai dari cara berpikir, berkelompok dan bernegara, akan senantiasa berada pada upaya merombak kebijakan kebijakan sebelumnya dan oleh pemimpin sebelumnya.
Tak ada ceritanya sebuah negara sekuler itu merdeka atau bebas dari sebuah tekanan kelompok mayoritas, sehebat apapun negaranya. Karena pada hakikatnya rumusan sekuler itu lahir dari benak atau otak manusia yang penuh dengan keterbatasan yang kelebihannya adalah kekuarangannya. Sekularisme pada intinya adalah melanggengkan hidup manusia meyakini dunia sebagai tujuan akhir, sehingga tidak memerlukan konsep agama dimasukkan dalam rumusan berbangsa, bahkan tuhan hanya sebatas pengakuan belaka, bukan melibatkan tuhan dalam kehidupan bernegara, karena beranggapan cukup dengan konsep manusia sebagai solusi masalah bangsa dan negara. Otak manusia di fungsikan untuk melahirkan gagasan gagasan bersifat formula atau kiblat suatu bangsa atau negara.
Munculnya tuntutan atas nama HAM, menjadi biasa di kalangan hamba hamba sekularisme, karena kontrol bangsa menyuratkan siapa saja bisa menjadi kontrol, sehingga para penyamun, bajak darat dan laut , perampok, tokoh tokoh rumah rumah bordel, para penjudi dan kaum petualang lainya dapat menjadi kontrol negara. Penegakkan hukum menjadi sangat tipis, karena sarat dengan kepentingan kekuasaan politik, yang lahir dari gagasan sekular. Hukum menjadi sulit ditegakkan oleh negara manakala negara berhadapan dengan kelompok yang terikat dengan kenegaraan, atau hukumnya menjadi kendor dan bertele tele, tidak mudah selesai, meskipun sudah jelas faktanya. Atau sama sekali menjadi orang yang bebas tuduhan atas nama hukum rekayasa manusia, sekalipun setumpuk saksi dihadirkan
Dalam bidang ekonome, terjadi penindasan proteksi oleh sistem yang berlaku, dengan menempatkan kalangan konglomerat sebagai pengendali ekomome secara tidak langsung. Maksudnya adalah ukuran suatu harga ditentukan para distributor yang rentans masalah manipulasi, dengan memihak pada pelaku bisnis tententu. Sementara kesataran hidup layak tidak dirasakan para petani, nelayan atau rakyat secara utuh, karena kebijakan pemerintah yang memble. Itulah sekularisme, merusak tatanan bernegara dan berbangsa, menghilangkan dan menguburkan keinginan orang untuk beragama secara layak dan benar. Dan mengganti pandangan hidup agama dengan agama sekuler.
Pada nilai sekular lainnya, telah menempatkan politik bernegara sebagai ajang kumpul suara, melalui pemilihan. Tidak dibatasi, siapa saja bisa mencalonkan diri, hinggga memudahkan seorang penjahat, penjudi, morfinis dan pelacur atau sejenisnya bisa mengajukan diri menjadi pemimpin bangsa, menghimpun kekuatan atas nama pembelaan terhadap bangsa, terbukti berapa banyak orang strees ketika tidak terpilih sebagai wakil rakyat, apa penyebabnya kalau bukan sedang menghayal bagaimana membagi bagi kue kekuasaan dan mengerogoti kekayaan negara.
 

JUMLAH SATELIT LUAR ANGKASA


 
 
haxims blog
Mungkin Selama ini Kita lihat pada gambar-gambar satelit seperti gambar diatas (cuma satu Satelit ) ane pikir-pikir gan setiap negara mempunyai satelit masing-masing dan dilihat dari jenisnya yang beragam
Sekarang kita Lihat dulu Jenis-jenis satelit
Satelit adalah benda yang mengorbit benda lain dengan periode revolusi dan rotasi tertentu. Ada dua jenis satelit yakni satelit alam dan satelit buatan. Jenis-Jenis Satelit:
* Satelit astronomi
* Satelit komunikasi
* Satelit pengamat Bumi
* Satelit navigasi
* Satelit mata-mata
* Satelit tenaga surya
* Stasiun angkasa
* Satelit cuaca
* Satelit miniatur
Jenis-Jenis Orbit Satelit:
Banyak satelit dikategorikan atas ketinggian orbitnya, meskipun sebuah satelit bisa mengorbit dengan ketinggian berapa pun.
1. Orbit Rendah (Low Earth Orbit, LEO): 300 – 1500km di atas permukaan bumi.
2. Orbit Menengah (Medium Earth Orbit, MEO): 1500 – 36000 km.
3. Orbit Geosinkron (Geosynchronous Orbit, GSO): sekitar 36000 km di atas permukaan Bumi.
4. Orbit Geostasioner (Geostationary Orbit, GEO): 35790 km di atas permukaan Bumi.
5. Orbit Tinggi (High Earth Orbit, HEO): di atas 36000 km.
Orbit berikut adalah orbit khusus yang juga digunakan untuk mengkategorikan satelit:
* Orbit Molniya, orbit satelit dengan perioda orbit 12 jam dan inklinasi sekitar 63°.
* Orbit Sunsynchronous, orbit satelit dengan inklinasi dan tinggi tertentu yang selalu melintas ekuator pada jam lokal yang sama.
* Orbit Polar, orbit satelit yang melintasi kutub
Lihat gan banyak jenis-jenis satelit masuk akal kah kalau di photo-photo satelit yang kita lihat hanya terdapat satu stelit

haxims blog
satelit buatan pertama diluncurkan untuk mengorbit Bumi adalah SPUTNIK 1, yang diluncurkan pada tanggal 4 Oktober 1957 oleh Uni Soviet setelah itu semakin majunya tekhnologi membuat peluncuran satelit semakin berkembang pesat selanjutnya. Sampai dengan 19 Januari 2000, jumlah satelit buatan manusia yang telah diluncurkan men-gorbit Bumi adalah 5159 satelit.
Gila Banyak amad gan . . .
dan pada tahun 2009 ane gak tau jumlahnya . . . .
kalau mau hitung siahkan . . . . bagi yang bisa menghitung dengan tepat jumlah satelit ane kasih cendol
neh ane ada pic jumlah satelit di seluruh dunia
Dari Jauh

haxims blog
Dari Dekat

haxims blog
Lebih Nyata

haxims blog
 

FIGUR NASIONAL


MOHAMMAD NATSIR SANG KUTU BUKU


Siapa yang tidak kenal dengan Mohammad Natsir sang tokoh besar yang menjadi pemimpin dan panutan. Beliau adalah tokoh pergerakan Islam dengan pemikiran yang revolusioner. Selain pemikir beliau adalah arsitek Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) . Beliau adalah pendiri partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) sewaktu orde lama yaitu saat Bung Sukarno menjadi Presiden Republik Indonesia ( RI ).

Mohammad Natsir ( 17 Juli 1908 – 6 Februari 1993 ) adalah sosok yang lurus, menyatukan kata-kata dengan perbuatan, politikus bersih, tajam dan konsisten dengan sikap yang diambil serta bersahaja.¹
Kesederhanaan beliau terlihat ketika menjadi Menteri Penerangan zaman Pemerintahan Bung Karno , beliau memakai kemeja tambalan , sebuah penampilan apa adanya dan terkesan jujur. Jarang sekali pejabat pemerintah yang berlaku seperti itu dan sulit kita temui saat ini. Beliau juga pemimpin Dewan Da’wah Islamiyah selepas dari jabatan politik. Mohammad Natsir adalah sosok artikulatif yang selalu memelihara kehalusan tutur katanya dalam berpolitik.²

Menjadi orang besar mempunyai rahasia tersendiri dalam setiap kehidupan seorang tokoh. Berkaca dari  perjalanan hidup Natsir, beliau adalah seorang pembelajar dan intelektual cerdas bahkan menjadi kutu buku. Terbukti saat Natsir muda belajar di SMA yang kala itu namanya Algemeene Middlebare School ( AMS ) sekolah Hindia Belanda yang hampir semua bahasa pengantarnya berbahasa Belanda.
Tiga bulan pertama di AMS, ujian berat bagi Natsir adalah bahasa. Ia selalu diejek  karena tidak fasih berbahasa Belanda. Kemudian ia mulai menyadari pentingnya menguasai bahasa sehingga mulailah mengatur waktunya yaitu setiap sore ia belajar bahasa Latin dan selepas maghrib ia mempelajari pelajaran sekolah. Nyaris tak ada waktu libur.

Tiap hari, selepas sekolah, Natsir pergi ke perpustakaan Gedung Sate untuk melahap buku-buku bibliotek. Targetnya, satu buku satu minggu ( one book one week ) . Hal yang penting ia dalami dirumah, ia juga memberanikan diri untuk terus menerus bercakap bahasa Belanda. 4

Seiring dengan bertambahnya kemampuan bahasa Belanda, Natsir kemudian mengikuti lomba mendeklamasikan  syair bahasa Belanda berjudul “ De Bandjir “ , sebelmnya ia juga berlatih dengan kawannya Bachtiar Effendy yang sudah mampu berbahasa Belanda dengan baik. Berkat tekad dan kemauan keras dalam belajarnya, Natsir meraih juara satu dalam lomba tersebut. Hadiahnya adalah buku karangan Westenenk, Waar Mensen Tigger Buren Ziyn ( Manusia dan Harimau Hidup Sejiran ).5

Sewaktu gurunya si Meener mengajar ilmu bumi ekonomi, gurunya selalu menyindir pergerakan poltik kaum nasionalis. Suatu kali, Meneer memberikan pelajaran tentang “Pengaruh Penanaman Tebu dan Pabrik Gula Bagi Rakyat di Pulau Jawa” ia menugaskan muridnya menulis makalah, bagi Natsir ini membutuhkan dua pekan untuk menyelesaikan tugas paper-nya itu. Tiap hari dia pergi ke perpustakaan untuk mencari literature tentang pabrik gula dan juga jurnal terbitan kaum pergerakan dalam Volksraad yaitu semacam Dewan Perwakilan Rakyat.6

Selain kutu buku, Natsir juga jago dalam menganalisis secara matang dan tajam. Tiba harinya untuk mempresentasikan makalah dengan analisisnya di depan kelas. Ia menyodorkan bukti bahwa tidak benar Jawa menerima keuntungan dari pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Yang untung adalah kaum capital dan pejabat bupati yang memaksakan rakyat menyewakan tanahnya kepada pabrik dengan harga rendah.Sehingga setelah mempresentasikan analisinya dengan bahasa Belanda dengan baik, suasana kelas sunyi dan Meneer diam, Natsir pun puas.7

Hidup dalam didikan sekolah Belanda, membukakan jiwa Natsir terhadap dampak buruk penjajahan. Jiwa perlawanannya menyala-nyala. Ketertarikannya pada politik mulai tumbuh. Kepada Ahmad Hassan, pria keturunan India asal Singapura  yang menjadi ahli agama di Organisasi Persatuan Islam itu Natsir datang menimba ilmu agama Islam, menulis dan berdiskusi.8

Sebagai aktivis, Natsir juga aktif berinteraksi dengan tokoh pergerakan. Ia juga menulis di majalah bulanan Pembela Islam sebagai jalan perjuangannya. Natsir adalah seorang yang kutu buku yang melahap habis buku-buku filsafat barat,baik kuno maupun modern, buku sejarah, sastra dan rajin mengikuti berita Internasional dari berbagai jurnal. Natsir juga melahap habis karya-karya Snouck Hurgronje di perpustakaan di antaranya Netherland en de Islam, buku yang memaparkan strategi Hurgronje dalam menghadapi Islam. Buku ini membuat Natsir bertekad melawan Belanda melalui pendidikan.9

Melihat keteladanan Natsir tersebut, maka sudah saatnyalah kaum muda yang intelektual ini harus bangkit, kita harus tumbuh menjadi Natsir-Natsir muda saat ini. Dalam hal berkawan, walaupun Natsir berseberangan secara ideologi dengan Bung Karno, beliau tetap berkawan akrab dan saling menghormati. Itulah kesantunan Natsir dalam membangun kehidupan dengan ideologi Islam.

Maka, sebagai pemuda kita saat ini harus mampu belajar lebih keras lagi untuk masa depan peradaban yang lebih baik, strategi belajar dengan trilogi pembelajaran masih tepat untuk kita gunakan yang meliputi membaca, menulis dan diskusi. Saatnya kita bergerak dan berjuang dalam membangun wawasan intelektual yang tangguh dengan mengenali dan membaca zaman.

TOKOH PLURALISME INDINESIA


PENYEBAR VIRUS SIPILIS INDONESIA

    Tulisan ini diringkas dari buku berjudul 50 TOKOH LIBERAL ISLAM INDONESIA : PENGUSUNG IDE SEKULARISME, PLURALISME, DAN LIBELARISME AGAMA (penulis Budi Handrianto, cetakan pertama terbitan HUJJAH Press Mei 2007). Ada banyak tokoh-tokoh pelopor, senior maupun para penerus “perjuangan” yang dibahas dalam buku tersebut, namun yang akan saya sajikan dalam tulisan ini hanyalah tokoh yang memang sudah dikenal -diakui ataupun tidak- oleh masyarakat luas sebagai pengusung paham SIPILIS (baca : Sekularis, Pluralis, dan Liberalis) yang kerap kali dengan bangga menyebarkan dan meresahkan Indonesia dengan berbagai ide-ide dan pemikirannya yang nyleneh.

    Tulisan ini dibuat agar para rijalud da’wah senantiasa waspada, karena ternyata musuh-musuh da’wah itu banyak bermunculan di Indonesia yang memang sengaja disiapkan untuk menghancurkan Islam, dan agar menjadi ihtimam bagi para rijal untuk senantiasa meningkatkan ilmu dan fikriyah yang dimiliki, terutama untuk menghadapi kaum SIPILIS.

Abdurrahman Wahid

    Lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur 4 Agustus 1940. Ia putra tertua dari K.H Ahmad Wahid Hasyim yang merupakan tokoh nasional sekaligus mentri agama pertama republik ini. Kakeknya sendiri adalah K.H. Hasyim Asy’ari, pengasuh pondok pesantern Tebu Ireng dan pendiri organisasi Nahdhatul Ulama (NU).Pernah menjadi Presiden RI tahun 1999-2001. Gus Dur, demikian ia sering disapa, adalah salah satu dari 4 tokoh yang disebut Greg Barton sebagai pelopor Islam Liberal di Indonesia. 

    Gus Dur tamat sekolah Sekolah Rakyat di Jakarta tahun 1953, lalu melanjutkan SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) di Yogyakarta dan tamat tahun 1956 dan mengaji pada KH. Ali Maksum di Krapyak Yogyakarta. Kemudian meneruskan belajar di pesantren Tegalrejo Malang, pindah ke pesantern Tambak Beras Jombang tahun 1959-1963. Lalu belajar ilmu-ilmu Islam dan sastra Arab di Universitas Al-Azhar Kairo kemudian pindah ke Fakultas Sastra Universitas Baghdad. Dari Baghdad, Gus Dur kembali ke Indonesia tahun 1974 dan mulai berkarir sebagai ‘cendekiawan’ dengan menulis sejumlah kolom di berbagai media massa nasional.

    Nama Gus Dur mulai mencuat setelah terpilih sebagai ketua umum PBNU, dalam Muktamar NU di Situbondo tahun 1984. Ketika itu hubungan NU dnegan pemerintah sedang mesra-mesranya. Kendati dalam perjalanan selanjutnya, Gus Dur tak selalu berkompromi dnegan pemerintah. Misalnya, saat pemerintah berencana mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Muria, Gus Dur menentangnya. Demikian pula saat Habibie mendirikan ICMI, Gus Dur mengadakan perlawanan dengan mendirikan Forum Demokrasi. Salah satu kiprah Gus Dur yang paling menonjol saat memimpin NU, adalah ketika ia membawa organisasi tersebut kembali ke khittahnya, keluar dari politik praktis pada tahun 1984. Kendati pada tahun 1999, ia sendiri yang membawa NU kembali ke panggung politik meski dalam format yang berbeda karena dilakukan melalui pembentukan Partai Kebangkitan Bangsa, partai yang selalu dirujuk sebagai ‘anak kandung’ NU. Sementara itu Gus Dur tidak mengakui partai lain bentukan orang-orang NU selain PKB. Bahkan sebelum pemilu, di Televisi Pendidikan Indonesia dengan serius ia menyatakan bahwa dari dubur ayam bisa keluar telur dan tai ayam. Saat ditanya apa maksudnya, Gus Dur menjawab, “ Yang telur ayam itu PKB, yang lainnya tai ayam. “

    Awal tahun 1998 ia terserang stroke. Tim dokter bisa menyelamatkannya, namun sebagai akibatnya penglihatannya kian memburuk. Pada saat ia dilantik  menjadi presiden, ia sudah dideskripsipkan media massa barat sebagai ‘nyaris buta’. Selain karena stroke, diduga problem kesehatannya juga dikarenakan faktor keturunan yang disebabkan hubungan darah yang erat diantara orangtuanya.

    Semasa menjabat sebagai Presiden RI yang ke-4, ia sudah membuat pernyataan yang memicu reaksi keras dari beberapa komponen Islam, salah satunya adalah pernyataan Gus Dur akan membuka hubungan dagang dengan Israel, negara yang telah membantai ribuan nyawa orang Palestina hingga saat ini. Pada saat Sidang Umum MPR tahun 1999, Poros Tengah yang gagal meng-golkan salah seorang tokohnya sendiri menjadi presiden (BJ. Habibie, Amien Rais, Jamzah Haz dan Yusril Ihza Mahendra), merangkul Gus Dur untuk bisa mengalahkan Megawati Sukarnoputri. Sehingga Megawati yang partainya memenangkan pemilu akhirnya harus puas dengan kursi wapres. Terpilihnya kembali Gus Dur ini, sekali lagi telah menunjukkan sosk kontroversial, dalam hal kelayakan politik demokrasi dan dalam hal kondisi fisik Gus Dur sendiri. Partai Gus Dur yang hanya mendapatkan 11% dapat mengalahkan Megawati yang notabene memenangkan pemilu dengan raihan 35%. Bahkan Gus Dur sendiri merasa kaget dan heran dengan mengatakan, “Orang buta kok dipilih menjadi presiden.”
    Diluar karir politik praktisnya, Gus Dur kerap kali berbicara keras menentang politik keagamaan sektarian. Pendiriannya sering menempatkannya pada posisi sulit dengan melawan pemimpin Islam lainnya di Indonesia. Seperti saat didirikannya ICMI yang diketuai BJ. Habibie, Gus Dur secara terbuka menentang dan menyebut ICMI akan menimbulkan masalah bangsa di kemudian hari, yang dalam tempo kurang dari 10 tahun ternyata pernyataannya tersebut bisa dibuktikan benar atau tidak. Lalu, ia mendirikan Forum Demokrasi sebagai penyeimbang ICMI.

    Gus Dur termasuk orang yang sering melontarkan pendapat kontroversial. Bahkan ketika menjabat Presiden RI ke-4 dan berhenti jadi presiden, kebiasaan melontarkan pernyataan heboh tidak pernah berhenti. Sampai-sampai, kata yang sering dilontarkan untuk menyederhanakan sesuatu menjadi ungkapan yang umum di masyarakat, “ Gitu aja kok repot !”

    Ia juga pengamat sepakbola yang tajam daya analisisnya. Bahkan, setelah penglihatannya benar-benar terganggu, pada Piala Dunia Juni 2002 silam, ia masih juga antusias memberi komentar mengenai proyeksi juara.

    Begitulah Gus Dur, tokoh penuh kontroversi. Pernyataan dan tindakannya sering membuat gerah dan menuai kritik. Mulai dari pernyataannya yang ingin mengganti ucapan ‘assalaamu’alaikum’ dengan selamat pagi/siang/malam sampau pernyataannya yang cukup berani dengan mengatakan bahwa ‘Al-Qur’an adalah kitab porno’. Pernyataan menghebohkan tersebut membuat penolakan dari umat ketika ia di Purwakarta. Terlalu kontroversinya Gus Dur pernah membuat tokoh sepuh NU KH. As’ad Syamsul Arifin memilih keluar (mufaraqah) dari NU karena menganggap Gus Dur bagaikan Imam Sholat yang kentut sehingga tidak sah makmum di belakangnya.

    Selepas dari jabatan presiden, kontroversi terus menyelimuti Gus Dur. Ia bahkan pernah dinobatkan sebagai anggota kehormatan Legium Christus (Laskar Kristus) pada bulan Januari 2002 di GOR Kampus Universitas Manado di Tataaran Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Gus Dur dipilih oleh Laskar Kristus sebagai anggota kehormatan karena Gus Dur dinilai sejalan dengan misi Legium Christus. Sebagai anggota kehormatan, Gus Dur menadpat tugas khusus. Kata Lucky Senduk, Sekretaris Umum Legium Christus kepada Tempo News Room, “Tugas Gus Dur sebagai ujung tombak menolak pemberlakuan Piagam Jakarta dan melalui NU melindungi orang kristen di Jawa.”

    Gus Dur juga pernah memberikan kata pengantar dalam buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI” tulisan dr. Ribka Tjiptaning Ploretariyati pada bulan Agustus 2002 sehingga memicu keluarnya buku karangan Hartono Ahmad Jaiz berjudul “Gus Dur Menjual Bapaknya.”

    Dalam kasus Ambon, Gus Dur justru memojokkan kelompok Islam dan membela kelompok non Muslim. Ketika kunjungan ke Institut Mahatma Gandhi di Denpasar Bali, dalam acara do’a bersama yang diberi nama Agni Horta, Gus Dur mengeluarkan pernyataan-pernyataan diantaranya Mahatma Gandhi adalah orang sui. Katanya, “Saya menjadi seorang Muslim yang juga menganut faham Mahatma Gandhi.” Kemudian katanya, “Bagi saya, semua agama itu sama. Di Islam pun banyak orang yang berkelahi karena agama.” Ketika kasus penghancuran Masjid Babri oleh orang-orang Hindu di India, di hadapan umat Hindu Gus Dur justru berkata, “Mengapa kita marah kepada mereka yang menyerang Masjid Babri?kenapa?karena toh jauh sebelumnya, Masjid Babri itu telah menjadi kuil. Kita datang, kita jadikan masjid. Sekarang, orang lain datang minta diubah lagi.” Pernyataan ini agak aneh karena justru PBNU mengeluarkan pernyataan yang isinya menyesalkan terjadinya insiden Ayodhya (Penghancuran Masjid Babri) itu dan yang menandatangani suratnya adalah Gus Dur sendiri bersama sekjen PBNU Ichwan Syam.

    Ketika Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia yang berakhir tanggal 29 Juli 2006, menetapkan fatwa diantaranya mengharamkan paham Liberalisme, Sekularisme, Pluralisme serta paham Ahmadiyah. Sejumlah tokoh masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Madani untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Dawam Raharjo, Ulil Absar Abdalla (Jaringan Islam Liberal), Johan Effendi, Pendeta Winata Sairin (PGI) dan tokoh-tokoh lainnya bahkan mendesak MUI agar mencabut fatwa yang mengharamkan paham yang berbeda semisal Pluralisme, Liberalisme dan Ahmadiyah. Mereka beragumen, fatwa semacam itu seringkali dijadikan landasan untukmelakukan kekerasan terhadap pihak lain. Selain itu, “Indonesia bukanlah negara Islam tapi negara nasonal. Jadi ukurannya hukum nasioanal,” begitu kata Gus Dur di gedung PBNU.

    Bahkan Mei yang silam Gus Dur terbang ke Amerika Serikat memenuhi undangan Shimon Wiesenthal Center (SWC) untuk menerima Medal of Valor, Medali Keberanian. Selain untuk menerima medali tersebut, Gus Dur juga menyatakan ikut merayakan hari kemerdekaan Israel, sebuah hari di mana bangsa Palestina dibantai besar-besaran dan diusir dari tanah airnya. Medali ini dianugerahkan kepada mantan presiden RI ini dikarenakan Durahman dianggap sebagai sahabat paling setia dan paling berani terang-terangan menjadi pelindung kaum Zionis-Yahudi dunia di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar seperti Indonesia.

    Acara penganugerahan medali tersebut dilakukan dalam sebuah acara makan malam istimewa yang dihadiri banyak tokoh Zionis Amerika dan Israel, termasuk aktor pro-Zionis Will Smith (The Bad Boys Movie), di Beverly Wilshire Hotel, 9500 Wilshire Blvd., Beverly Hills, Selasa (6 Mei), dimulai pukul 19.00 waktu Los Angeles.

    Lazimnya acara penganugerahan penghargaan, maka dalam acara ini pun selain medali, ada juga sejumlah dollar yang dihadiahkan Shimon Wiesenthal Center kepada sang penerima. Hanya saja, berapa besar jumlah hadiah berupa uang ini tidak disebutkan dalam situs resmi Wiesenthal Center tersebut (
 

Daftar 50 Tokoh JIL Indonesia

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_SzFOz1bjZ2-jft3WLkyQ6TXgVHwSV_XnEEW0TS6fXt4O88YwKw6ThPQOChk3TLEWqfQqZ7PjYkcgd1wI0VrtAi5vwQNfTH1xmhaUJ_i0ufQdwn5WXrsjdb3NxXcdXCDpKawi0BFFF-qH/s400/P1050474.JPG
Mungkin kebawa Bulan Suci ramadhan. 
Iseng jalan-jalan di internet dengan keyword Penyesatan dalam Islam, ternyata semua hampir menuju pada suatu organisasi JIL (Jaringan Islam Liberal) yang mana cukup genjar dan vokal dalam menafsirkan islam dengan gaya mereka sendiri walaupun itu bertentangan al-Qur'an dan ass-Sunnah dengan manhaj salafus shalih.
Dan Berikut ini adalah 50 Tokoh dari JIL (Jaringan Islam Liberal) yang ada di Indonesia yang diambil dari buku terbitan Hujjah Press (kelompok Penerbit Al Kautsar) :


A. Para Pelopor
1. Abdul Mukti Ali
2. Abdurrahman Wahid
3. Ahmad Wahib
4. Djohan Effendi
5. Harun Nasution 
6. M. Dawam Raharjo 
7. Munawir Sjadzali
8. Nurcholish Madjid 

B. Para Senior
9. Abdul Munir Mulkhan 
10. Ahmad Syafi’i Ma’arif 
11. Alwi Abdurrahman Shihab
12. Azyumardi Azra 
13. Goenawan Mohammad
14. Jalaluddin Rahmat 
15. Kautsar Azhari Noer
16. Komaruddin Hidayat
17. M. Amin Abdullah
18. M. Syafi’i Anwar
19. Masdar F. Mas’udi 
20. Moeslim Abdurrahman
21. Nasaruddin Umar
22. Said Aqiel Siradj
23. Zainun Kamal

C. Para Penerus “Perjuangan”
24. Abd A’la
25. Abdul Moqsith Ghazali
26. Ahmad Fuad Fanani
27. Ahmad Gaus AF
28. Ahmad Sahal
29. Bahtiar Effendy
30. Budhy Munawar-Rahman
31. Denny JA 
32. Fathimah Usman
33. Hamid Basyaib
34. Husein Muhammad
35. Ihsan Ali Fauzi
36. M. Jadul Maula
37. M. Luthfie Assyaukanie 
38. Muhammad Ali
39. Mun’im A. Sirry
40. Nong Darol Mahmada
41. Rizal Malarangeng
42. Saiful Mujani
43. Siti Musdah Mulia 
44. Sukidi
45. Sumanto al-Qurthuby
46. Syamsu Rizal Panggabean
47. Taufik Adnan Amal
48. Ulil Abshar-Abdalla 
49. Zuhairi Misrawi
50. Zuly Qodir

Tambahan:

Judul Buku : 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia : Pengusung Ide Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme

Penulis : Budi Handrianto
Halaman : 295 + xxvi paperback (softcover)
Cetakan 1 : Juni 2007
Penerbit : Hujjah Press (kelompok Penerbit Al Kautsar

Kamis, 31 Maret 2011

Kampanye Pluralisme yang Setengah Hati


agaimanakah relasi komunikasi dalam bingkai pluralisme itu sesungguhnya? Pertanyaan tersebut memang lebih layak dijawab oleh mereka yang memerjuangkannya. Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menerka apalagi sampai mencari pembenaran atas wacana yang bagi mayoritas muslim tampak absurd dan kerap kali tampil menyebalkan itu.
            Tulisan ini hanya mencoba merefleksikan pluralisme dalam tataran praktik sehari-hari saja. Lebih khusus lagi ketika wacana tadi secara intensif (bahkan ekspresif) tampil di jagat maya. Ruang cyber dalam hal ini coba penulis posisikan sebagai medan wacana tempat aneka rayuan, tarikan, dan model-model persuasi bertebaran. Pluralisme hanya salah satu di antara sekian banyak wacana yang mencoba bersaing guna memenangkan opini. Karenanya, membedah tawaran pluralisme yang nampak entah berbentuk artikel, publisitas, hingga perkara remeh semisal status Facebook dan celoteh Twitter menjadi menarik. Terutama jika kita coba mengukur tingkat kesungguhan dan konsistensi wacana tadi guna memenangkan penerimaan khalayak.
            Sekadar sampel, dua tokoh pengusung pluralisme yang ditampilkan di sini adalah Ulil Abshar Abdala dan Sumanto Al-Qurtuby. Pemilihan dua tokoh tadi sejatinya tidak didasari pertimbangan yang cukup memadai jika ditinjau dari aspek metodologi. Keduanya ‘dicomot’ hanya karena penulis rasa cukup intensif menggunakan dunia maya sebagai medium penyebaran gagasan pluralisme. Tentu saja masih banyak tokoh lain yang tidak kalah intensnya, hanya saja di sini penulis batasi pada Ulil dan Sumanto, karena di samping akses penulis pada statement mereka berdua cukup tinggi, keduanya juga sama-sama pernah melontarkan semacam komitmen untuk memenangkan penerimaan wacana pluralisme agama di masyarakat. 
Kesadaran akan penerimaan
            Dalam wawancaranya yang dimuat Vivanews (21/1/10), Ulil Abshar Abdalla yang merupakan salah seorang tokoh sentral gerakan pluralisme mengatakan bahwa “tantangan saat ini adalah bagaimana ide-ide tentang pluralisme dan dialog-dialog agama tidak lagi mendapatkan kecaman dan mendapatkan legitimasi di masyarakat”. Penyataan tersebut dikemukakan Ulil menyikapi Fatwa MUI yang dikeluarkan jauh-jauh hari yakni pada tahun 2005 tentang keharaman pluralisme, liberalisme dan neo-liberalisme. Bagi Ulil, fatwa MUI itu memaksa para  aktivis yang getol mengampanyekan ide-ide tadi—khususnya pluralisme—menjadi takut untuk mengemukakan pendapat. Lebih lanjut ia berpendapat situasi semacam ini amat berbeda dengan sebelum era reformasi di mana pada waktu itu ada kebanggaaan dari kalangan aktivis ketika mempromosikan ide tersebut.
"Pluralisme dan kerukunan antar umat beragama saat itu dianggap sebagai ide yang maju, modern. Namun setelah muncul fatwa MUI itu, membuat kita para aktivis yang mengkampanyekan ide pluralisme ini jadi punya ketakutan bicara. Tekananannya hebat," demikian ujarnya
Penolakan dari golongan pengusung pluralisme terhadap pelbagai fatwa MUI sejatinya bukanlah hal baru. Otoritas lembaga yang satu ini memang seringkali menjadi sasaran tembak kalangan pembela kaum minoritas yang kerap membenturkan diri dengan aspirasi mayoritas tersebut. Karenanya apa yang menarik sesungguhnya ada pada respons Ulil atas konsekuensi fatwa MUI tadi. Pria yang pada waktu itu tengah mencalonkan diri sebagai penerus kepemimpinan NU ini  menekankan pentingnya mengangkat kembali citra wacana pluralisme. "Yaitu dengan cara mengangkat kembali reputasi mengenai ide pluralisme ini di masyarakat," tambahnya.
            Dari sini dapat kita lihat ada semacam komitmen Ulil untuk setidaknya menampilkan wajah pluralisme yang lebih memenangkan penerimaan masyarakat(muslim tanah air). Masyarakat yang dalam hal ini diposisikan sebagai sasaran sebuah gagasan, dirasa perlu untuk dipahamkan mengenai superioritas pluralisme vis a vis pemahaman puritan yang kerap dicitrakan menjadi “musuh” toleransi dan kerukunan hidup antar umat beragama.
            Senada dengan Ulil, Sumanto al-Qurtuby pun memiliki pandangan yang kurang lebih sama. Dalam artikelnya yang bertajuk ”Jihad Pluralis Melawan  Kaum Ekstrimis”, Sumanto mengajak masyarakat untuk melakukan “jihad kolektif” guna membendung kelompok yang disebutnya sebagai ekstrimis-agama dengan tidak menggunakan kekerasan. “Jihad yang dimaksud di sini adalah usaha keras tanpa kenal lelah untuk melakukan ‘pencerahan’ terhadap kelompok-kelompok keagamaan ini dengan jalan dialog yang sehat, santun, dan beradab baik melalui tulisan akademik maupun forum-forum diskusi ilmiah yang bermuara pada pentingnya sikap keberagamaan yang humanis-pluralis dan toleran inklusif,” (Jihad Pluralis Melawan Kaum Ekstrimis, Kompas, 20/2/10). Sumanto juga tidak lupa menegaskan bahwa melawan kekerasan dengan kekerasan bukanlah cara terbaik, sebagi penjelas maksud ajakannya tadi.  
Pluralis dan kenaifan beropini
            Celakanya, kehendak untuk memenangkan penerimaan khalayak akan gagasan pluralisme sekaligus ‘berjihad’ melawan ‘kaum ekstrimis’ di atas tidak diimbangi dengan pola komunikasi harian pegiatnya. Beberapa kali bahkan kecenderungan pola komunikasi antipatif mengemuka dan memancing emosi publik penyimak.
            Simaklah statement Ulil berikut yang diungkapkannya dalam jejaring social twitter 9/11/2010 yakni saat umat islam hendak melaksanakan ibadah qurban: “Menurut saya, akan sangat baik kalau hewan korban diganti uang cash, dijadikan semacam ‘endowment’ untuk biayai pendidikan, misalnya.
            Kontan saja banyak yang merespon dengan antipati ungkapan Ulil tadi. Dari sisi momentum, pelaksanaan ibadah kurban saat itu sudah dekat dan umat muslim tengah bersiap menyambutnya, namun pernyataan Ulil tadi seolah-olah hendak menggugat keyakinan cara ibadah yang telah mapan diyakini kaum muslimin bukan hanya Indonesia namun juga dunia. Dalam hal ini resistensi tentu menjadi beralasan dan seharusnya orang dengan kapasitas seperti Ulil, menyadari hal tersebut. Alih-alih penerimaan, statement tadi lebih banyak menuai gugatan dan cercaan dari khalayak muslim pengguna jejaring sosial.
            Ulil Abshar Abdalla memang adalah sosok yang sejak awal kemunculannya sebagai intelektual public kerap melahirkan opini yang kontroversial. Artikelnya yang dimuat oleh salah satu harian nasional bertajuk ”Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” misalnya, langsung menuai kecaman hingga berbuntut fatwa mati dari salah satu ormas muslim. Kejadian tersebut rupanya sama sekali tidak menyurutkan Ulil untuk tetap memproduksi opini yang berlawanan dari pemahaman baku umat Islam. Akibatnya, resistensi harus terus ia tanggung sepanjang karier keintelektualannya.
            Warna moderat Ulil sebenarnya sempat mengemuka pada awal tahun 2010 lalu. Melalui pidato kebudayaannya berjudul “Sebuah Refleksi Tentang Kehidupan Keberagamaan dan Sosial Kita,” ia tidak lagi secara frontal menyerang pemahaman mainstream umat islam namun mampu melihat sisi positif dari keyakinan mayoritas muslim. Memang ide-ide liberal khas Ulil tetap ditampilkan superior pada akhirnya tapi setidaknya ia masih memberikan ruang bagi ‘artikulasi’ yang lebih berimbang menyangkut apa yang selama ini ia sebut sebagai pemahaman salaf dan kelompok fundamentalis.
             Kesadaran akan pentingnya artikulasi tadi sayangnya tidak terlampau konsisten tampak sebagaimana terbukti dari celoteh-celoteh harian dan kiprahnya di kesempatan komunikasi publik selanjutnya. Alih-alih berusaha menjadi artikulator dari tiap elemen umat, Ulil pada pertengahan Juni 2010 justru merambah ranah politik praktis. Partai Demokrat sebagai pemenang pemilu 2009 dipilih sebagai kendaraan barunya. Pilihannya pada partai Demokrat bisa dipahami mengingat parpol tersebut memang tidak memiliki warna ideologi yang khas dan kental jika dibandingkan PDIP, Partai Golkar, atau PKS misalnya. Hal ini diamini sendiri oleh Ulil yang menyatakan pilihannya didasari pada pertimbangan bahwa Demokrat adalah partai yang masih bisa dibentuk(inilah.com/17/6/10).  Dan dalam kendaraan ini pula kicauan Ulil di dunia cyber mengenai gagasannya yang kontroversial-seperti penolakannya atas pemblokiran situs porno dan dukungannya pada Ahmadiyah-kian intensif berbekal back up kekuatan politik yang lebih nyata. Walhasil kesan pragmatis dan oportunistik sulit untuk ia hindari demikian pula kredibilitasnya sebagai intelektual tak ayal dipertanyakan.
            Di tempat yang berbeda, Sumanto Al-Qurtuby pun setali tiga uang. Berlawanan dengan statementnya ketika mengajak berjihad melawan kelompok ekstrimis tanpa menggunakan kekerasan, beberapa kali celetukannya di Facebook mengindikasikan kekerasan non-fisik yang sebetulnya juga pernah ia gugat sendiri dalam “Jihad Pluralis”-nya.
            Simaklah beberapa status Sumanto berikut, “Saya kira pemerintah dan otoritas agama terkait sudah saatnya untuk menginstruksikan agar semua tempat ibadah, khususnya masjid/mushalla, harus kedap suara agar aktivitas keagamaan (azan, pengajian, khotbah dlsb) tidak terdengar keras keluar ruangan yang bisa saja mengganggu & menimbulkan ketidaknyamanan & keresahan sejumlah pihak terutama saat pengajian/khotbah2 yg bersifat provokatif.”(18/10/10), dalam kesempatan lain ia kembali menulis,” Apa sebetulnya alasan pengharaman babi dlm Islam itu? Betulkah kata "khinzir" dlm Alqur'an yg dijadikan alasan pengharaman babi itu berarti babi? Lalu apakah yg diharamkan itu "babi putih" (babi piaraan) atau "babi coklat" (babi hutan). Tdk spt "babi putih" yg bnyk mengandung lemak & kolesterol, babi hutan ini sangat sehat & menyehatkan...”(22/2/10), atau “Pada waktu konflik Maluku meletus, banyak org2 non-Muslim yg "diislamkan" dengan cara "disunat" oleh sejumlah milisi Muslim. Bgm sunat bisa dianggap sbg "lambang keislaman"? Bukankah tradisi sunat dlm Islam ini berasal dr tradisi Yahudi? Karena itu "sunat" lbh tepat disebut sbg "simbol keyahudian" drpd "lambang keislaman"....”
Konsistensi dan Kejujuran Intelektual
            Menyaksamai inkonsistensi pernyataan dan praktik kedua tokoh pengusung pluralisme dalam dunia maya di atas, mau tidak mau kita maklum jika akhirnya muncul keraguan mengenai komitmen intektual keduanya. Ketika dalam kesehariannya baik Ulil maupun Sumanto lebih menikmati aneka ekspresi resistensi publik ketimbang bersungguh-sungguh mengkomuniksikan gagasannya dengan santun, penolakan menjadi lumrah.