Kamis, 13 Februari 2014

Komunikasi Politik

Pengertian Komunikasi Politik

Secara sederhana, komunikasi politik (political communication) adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara ”yang memerintah” dan ”yang diperintah”.

Mengkomunikasikan politik tanpa aksi politik yang kongkret sebenarnya telah dilakukan oleh siapa saja: mahasiswa, dosen, tukang ojek, penjaga warung, dan seterusnya. Tak heran jika ada yang menjuluki Komunikasi Politik sebagai neologisme, yakni ilmu yang sebenarnya tak lebih dari istilah belaka.

Dalam praktiknya, komuniaksi politik sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, dalam aktivitas sehari-hari, tidak satu pun manusia tidak berkomunikasi, dan kadang-kadang sudah terjebak dalam analisis dan kajian komunikasi politik. Berbagai penilaian dan analisis orang awam berkomentar sosal kenaikan BBM, ini merupakan contoh kekentalan komunikasi politik. Sebab, sikap pemerintah untuk menaikkan BBM sudah melalui proses komunikasi politik dengan mendapat persetujuan DPR

· Gabriel Almond (1960): komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik. “All of the functions performed in the political system, political socialization and recruitment, interest articulation, interest aggregation, rule making, rule application, and rule adjudication,are performed by means of communication.”

Komunikasi politik merupakan proses penyampaian pesan-pesan yang terjadi pada saat keenam fungsi lainnya itu dijalankan. Hal ini berarti bahwa fungsi komunikasi politik terdapat secara inherent di dalam setiap fungsi sistem politik.

· Process by which a nation’s leadership, media, and citizenry exchange and confer meaning upon messages that relate to the conduct of public policy. (Perloff).

· Communication (activity) considered political by virtue of its consequences (actual or potential) which regulate human conduct under the condition of conflict (Dan Nimmo). Kegiatan komunikasi yang dianggap komunikasi politik berdasarkan konsekuensinya (aktual maupun potensial) yang mengatur perbuatan manusia dalam kondisi konflik. Cakupan: komunikator (politisi, profesional, aktivis), pesan, persuasi, media, khalayak, dan akibat.

· Communicatory activity considered political by virtue of its consequences, actual, and potential, that it has for the funcioning of political systems (Fagen, 1966).
· Political communication refers to any exchange of symbols or messages that to a significant extent have been shaped by or have consequences for the political system (Meadow, 1980).
· Komunikasi politik merupakan salah satu fungsi partai politik, yakni menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat dan mengaturnya sedemikian rupa –“penggabungan kepentingan” (interest aggregation” dan “perumusan kepentingan” (interest articulation) untuk diperjuangkan menjadi public policy. (Miriam Budiardjo).

· Jack Plano dkk. Kamus Analisa Politik: penyebaran aksi, makna, atau pesan yang bersangkutan dengan fungsi suatu sistem politik, melibatkan unsur-unsur komunikasi seperti komunikator, pesan, dan lainnya. Kebanyakan komunikasi politik merupakan lapangan wewenang lembaga-lembaga khusus, seperti media massa, badan informasi pemerintah, atau parpol. Namun demikian, komunikasi politik dapat ditemukan dalam setiap lingkungan sosial, mulai dari lingkup dua orang hingga ruang kantor parlemen.

· Wikipedia: Political communication is a field of communications that is concerned with politics. Communication often influences political decisions and vice versa.
The field of political communication concern 2 main areas:
1. Election campaigns - Political communications deals with campaigning for elections.
2. Political communications is one of the Government operations. This role is usually fullfiled by the Ministry of Communications and or Information Technology.

· Mochtar Pabotinggi (1993): dalam praktek proses komunikasi politik sering mengalami empat distorsi.
1. Distorsi bahasa sebagai “topeng”; ada euphemism (penghalusan kata); bahasa yang menampilkan sesuatu lain dari yang dimaksudkan atau berbeda dengan situasi sebenarnya, bisa disebut seperti diungkakan Ben Anderson (1966), “bahasa topeng”.
2. Distorsi bahasa sebagai “proyek lupa”; lupa sebagai sesuatu yang dimanipulasikan; lupa dapat diciptakan dan direncanakan bukan hanya atas satu orang, melainkan atas puluhan bahkan ratusan juta orang.”
3. Distorsi bahasa sebagai “representasi”; terjadi bila kita melukiskan sesuatu tidak sebagaimana mestinya. Contoh: gambaran buruk kaum Muslimin dan orang Arab oleh media Barat.
4. Distorsi bahasa sebagai “ideologi”. Ada dua perspektif yang cenderung menyebarkan distoris ideologi. Pertama, perspektif yang mengidentikkan kegiatan politik sebagai hak istimewa sekelompok orang --monopoli politik kelompok tertentu. Kedua, perspektif yang semata-mata menekankan tujuan tertinggi suatu sistem politik. Mereka yang menganut perspektif ini hanya menitikberatkan pada tujuan tertinggi sebuah sistem politik tanpa mempersoalkan apa yang sesungguhnya dikehendaki rakyat.
Pola-pola Komunikasi Politik
  1. Pola komunikasi vertikal (top down, dari pemimpin kepada yang dipimpin)
  2. Pola komunikasi horizontal (antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok)
  3. Pola komunikasi formal (komunikasi melalui jalur-jalur organisasi formal)
  4. Pola komunikasi informal ( komunikasi melalui pertemuan atau tatap muka, tidak mengikuti prosedur atau jalur-jalur organisasi).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pola-pola komunikasi politik
  1. Faktor fisik (alam)
  2. Faktor teknologi
  3. Faktor ekonomis
  4. Faktor sosiokultural (pendidikan, budaya)
  5. Faktor politis
Saluran Komunikasi Politik
  1. Komunikasi Massa yaitu komunikasi ’satu-kepada-banyak’
Contoh : komunikasi melalui media massa.
  1. Komunikasi Tatap Muka yaitu dalam rapat umum, konferensi pers, dan Komunikasi Berperantara yaitu ada perantara antara komunikator dan khalayak, contoh TV.
  2. Komunikasi Interpersonal yaitu komunikasi ’satu-kepada-satu’ contohnya door to door visit, temui publik atau Komunikasi Berperantara yaitu pasang sambungan langsung ‘hotline’ buat publik.
  3. Komunikasi Organisasi yaitu gabungan komunikasi ’satu-kepada-satu’ dan ’satu-kepada-banyak’: Komunikasi Tatap Muka, contohnya diskusi tatap muka dengan bawahan/staf dan Komunikasi Berperantara contohnya pengedaran memorandum, sidang, konvensi, buletin, newsletter, lokakarya.
Komponen-komponen Sistem Komunikasi Politik
  1. Lembaga-lembaga politik dalam aspek-aspek komunikasinya
  2. Institusi-institusi media dalam aspek-aspek politiknya
  3. Orientasi khalayak terhadap komunikasi politik
  4. Aspek-aspek budaya politik yang relevan dengan komunikasi. (Gurevitch dan Blumler)
 Sumber (komunikator) dalam komunikasi politik
Individual
Kolektif
Pejabat (birokrat)
Pemerintah (birokrasi)
Politisi
Partai politik
Pemimpin opini
Organisasi kemasyarakatan
Jurnalis
Media massa
Aktivis
Kelompok penekan
Lobbyist
Kelompok elite
Pemimpin
Badan/perusahaan komunikasi (media massa)
Komunikator profesional

Komunikator Politik
  1. Politisi, komunikator profesional, atau aktivis merupakan komunikator kunci dalam komunikasi politik
  2. Para politisi mewakili aktor yang berusaha memajukan kelompoknya

Dari Ide dan Wacana untuk Langkah dan Narasi

Dari Ide dan Wacana untuk Langkah dan Narasi

Mencari makna kata  Ide, Wacana, Langkah & Narasi
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia

IDE :
Rancangan yg tersusun di dalam pikiran; gagasan; cita-cita:

WACANA :  
1 komunikasi verbal; percakapan; 2 Ling keseluruhan tutur yg merupakan suatu kesatuan; 3 Ling satuan bahasa terlengkap yg direalisasikan dl bentuk karangan atau laporan utuh, spt novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; 4 Ling kemampuan atau prosedur berpikir secara sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; 5 pertukaran ide secara verbal;

LANGKAH :
1 gerakan kaki (ke depan, ke belakang, ke kiri, ke kanan) waktu berjalan: dia masuk dng -- gontai; 2 jarak antara kedua kaki waktu melangkah ke muka (waktu berjalan): jalannya cepat dan -- nya panjang-panjang; 3 sikap; tindak-tanduk; perbuatan: kita harus mengambil -- tegas dl menghadapi masalah ini; 4 tahap; bagian: marilah kita telusuri -- demi -- cara berjualan jeruk;

NARASI  :
1 pengisahan suatu cerita atau kejadian; 2 Sas cerita atau deskripsi suatu kejadian atau peristiwa; kisahan; 3 tema suatu karya seni: -- menyajikan sebuah kejadian yg disusun berdasarkan urutan waktu

Minggu, 03 November 2013

Silabus Studi hadist



SLABUS DAN SAP  ILMU HADIS

A.Silabus


Identifikasi mata Kuliah

Nama mata Kuliah                           : studi Hadist
Kode Mata Kuliah                            : -
Jumlah SKS                                         : 2 sks
Semester                                            :
Kelompok Mata Kuliah  : MKBS
Program Studi/Jurusan : Ilmu Pendidikan Agama Islam/ MKDU
Prasyarat                                             : -
Dosen                                               : Kisman S.Pd. M.Pd.i

Tujuan
Selesai mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan mampu  mengetahui objek bahasan ilmu hadis baik secara diroyah maupun secara riwayah.

3.Deskripsi Isi
Perkuliahan ini membahas tentang  bagaimana ilmu hadis  beserta teori-teori di dalamnya membahas hadis baik dilihat dari sisi riwayahnya maupun  dirayahnya. Disampaikan bahwa, seorang ulama hadis akan mengetahui kesahihan suatu hadis jika ia mengukurnya dari  ilmu dirayah hadis. Sedangkan jika ia mengukur dari persoalan problematika periwayatannya, maka ia akan menggunakan ilmu riwayah.

1.       materi perkuliahan
1.       berbagai istilah dan sinonom hadist
a.       pengertian hadist dan sunnah:argument dan perspektif
b.      struktur/unsur-unsur hadist
2.       posisi dan fungsi hadist sebagai sumber ajaran islam
a.       dalil-dalil kehujjahan hadist
b.      fungsi hadist terhadap al-quran
c.       intensitas para ulama menggunakan hadist sebagai sumber hukum
3.       hadis pada masa rasulullah, sahabat, dan era kodifikasi
a.       hadist pada masa rasulullah
b.      hadist pada masa sahabat
c.       kodifikasi hadist
4.       pengertian ilmu hadist, sejarah perkembangan dan cabang-cabangnya
a.       pengertian ilmu hadist
b.      sejarah perkembangan ilmu hadist dan cabang-cabangnya
c.       periodesasi perkembangan ilmu hadist
5.       tahammul wa ada’ al-hadist
a.       pengertian tahamul wa ada’al-hadist
b.      hubungan perowi dengan metode periwayatan yang digunakan
c.       periwayatan hadist oleh anak-anak,orang kafir dan orang fasik
d.      periwayatan hadist secara lafdzi dan ma’nawi
6.       klasifikasi hadist ditinjau dari beberapa aspeknya
a.       hadist ditinjau dari segi bentuknya
b.      klasifikasi hadist berdasrkan sifatnya
c.       hadist ditinjau dari jumlah perowinya
7.       hadist shahih
a.       pengertian hadist shahih
b.      syarat-syarat hadist shahih
8.       hadist mawdu’
a.       pengertian dan sejarah munculnya hadist mawdu’
b.      factor-faktor penyebab munculnya hadist mawdu’
c.       cir-ciri hadist mawdu’
9.       inkar al-sunnah
a.       definisi dan tipologi inkar as-sunnah
b.      sejarah perkembagan inkar as-sunnah
c.       sunnah di kalangan khawarij,syi’ah dan mu’tazilah
d.      argumentasi golongan inkar as-sunnah dan kontroversinya
10.   orientalime dan hadist
a.       pengertian orientalisme
b.      sejarah muncul dan perkembangan orientalisme
c.       berbagai teori dan asumsi orientalisme tentang hadist dan bantahan sarjana muslim
11.   biografi singkat imam perowi hadist
a.       imam malik bin anas (94-179 H)
b.      imam ahmad bin muhammad bin hambal (164-241 H)
c.       imam bukhori (194-256)
d.      imam muslim (202-261)
e.      imam nasa’I (215-303)
f.        abu dawud (202-275)
g.       at-tarmidzi (209-279)
h.      ibn majah (207-273)

        7. Daftar Buku
 Buku Utama/Referensi

Ahmad ‘Umar Hâsyim, Qawâ’id Ushûl al-Hâdits, t.t : Dâr al-Fikr, t.th.

Ahmad Hanafi, Theology Islam, Jakarta : Bulan Bintang, cet. Ke-9, 1991.

Abu Lubâbat Husayn,  Mawqif  al-Mu’tazilah min  al-Sunnah al-Nabawiyah,
Riyâdh : Dâr al-Liwâ’, t.th.
Amin, Ahmad, Fajrul Islam,  Singapura : Sulaiman Mar’I,  n.p., n.d.

Anas, Malik  bin,  al-Muwaththa, Kairo : Isa  al-babi al-halabi,  1951

Azami, M.M,  Memahami Ilmu Hadits, terj.Meth Kieraha, Jakarta : Penerbit Lentera, 1995.
Ahmad Sutarmadi, Al-Imam

SISTEM PERKULIAHAN
1. Ceramah
Dosen memberikan penjelasan dalam perkuliahan ketika membuka mata kuliah dan klarifikasi persoalan dalam perjalanan diskusi kelas.

2. Presentasi
Semua mahasiswa wajib mempresentasikan makalah yang dibuat secara kelompok. Presentasi dilakukan secara berkelompok sesuai dengan urutan pokok bahasan mata kuliah. Dalam presentasi makalah diperbolehkan menggunakan alat bantu LCD dengan menyajikan presentasi power point (minimal 5 halaman) yang menayangkan point-point makalah. Khusus untuk slide power point dibuat oleh perwakilan kelompok. Mahasiswa juga diperbolehkan menggunakan metode active learningsesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

3. Resitasi (Tugas)
 a. Tugas Makalah Kelompok
·         Membuat makalah dengan format  tema sesuai daftar bab dalam silabus (minimal 15 halaman font times new roman spasi 1,5 dengan menggunakan 5 buku referensi)—disertai dengan halaman sampul dan biodata singkat mahasiswa
·         Dikumpulkan pada  Pertemuan Ketiga kepada Komting dalam bentuk hard copy dan soft file untuk selanjutnya di-layout menjadi BUKU/DIKTAT yang selanjutnya digunakan dalam semua sesi perkuliahan
·         Makalah dipresentasikan di depan kelas secara berurutan
·         Pada saat presentasi wajib membawa/fotocopy  referensi  buku/kitab yang dijadikan rujukan
·         Makalah akan dikoreksi dan jika menyimpang dari pembahasan wajib revisi (perbaikan)
b. Tugas Slide Power Point
·         Setiap Kelompok diwajibkan membuat slide power point (minimal 5 halaman)
·         Slide power point berisi inti bahan presentasi
·         Dikumpulkan pada  Pertemuan Ketiga kepada Komting dalam bentuk hard copy dan soft file
c. Test Mid Semester dan Akhir Semester
·         Test Mid Semester dilaksanakan sesuai kalender akademik
·         Test Akhir Semester dilaksanakan sesuai kalender akademik
·         Masing-masing soal TTS dan TAS berjumlah lima diambil dari bahan perkuliahan yang telah disampaikan di kelas (baik penjelasan dosen atau hasil presentasi)

H.   SISTEM EVALUASI
Perkuliahan ini akan memberi bobot nilai pada komponen-komponen berikut:
a.    Kehadiran                                10%
b.    Tugas Kelompok & Individu       10%
c.    Keaktifan dalam Kelas               10%
d.    Ujian Tengah Semester               30%
e.    Ujian Akhir Semester                  40%

Silabus SPI



SILABUS MATA KULIAH SEJARAH PERADABAN ISLAM
PROGRAM KUALIFIKASI SARJANA/STRATA SATU (S-1)
FAKULTAS TARBIYAH STAIN AL-AMIN
DOSEN: KISMAN S.Pd.M.Pd.i

A. Informasi Umum

Nama Mata Kuliah : Sejarah Peradaban Islam (SPI)
Program Studi : S-1
Bobot : 4 SKS


B. Deskripsi

Sejarah merupakan realitas masa lalu, keseluruhan fakta, dan peristiwa yang unik dan berlaku. Hanya sekali dan tidak terulang untuk yg kedua kalinya. Oleh karena itu, ada pandangan bahwa masa silam tidak perlu dihiraukan lagi, anggap saja masa silam itu ”kuburan”. Pandang ini tentu saja sangat subyektif dan cenderung apriori sekaligus tidak memiliki argumentasi yang kuat. Tapi bagaimanapun sebuah perirtiwa pada masa silam bisa dijadikan pandangan untuk kehidupan yang akan datang agar lebih baik.

Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam (SPI) merupakan mata kuliah wajib untuk program studi S-1 di Fakultas Tarbiyah STAIN AL-AMIN. Dalam perkuliahan matakuliah ini mahasiswa akan diarahkan pada cara memahami Islam, baik Islam sebagai agama, budaya dan ilmu. Islam mempunyai rangkaian sejarah panjang yang tidak dapat dilupakan. Dimana dalam konteks peradaban, Islam mempunyai segudang bukti sejarah kemajuan dan perkembangan dari semua aspek.

Hal ini tentu harus dipahami secara betul oleh para mahasiswa karena Islam mempunyai karakter yang unik dalam kehidupan keberagamaannya. Oleh sebab itu, kajian seputar Sejarah Peradaban Islam dipandang sangat perlu untuk dikaji secara mendalam. Sehingga dalam proses pemahaman keislaman akan lebih utuh ketika betul-bentul paham dan mengerti tentang Sejarah Peradaban Islam.


C. Tujuan Mata Kuliah

1. Memberikan pemahaman yang utuh mengenai Sejarah Peradaban Islam
2. Memberikan kajian tentang pendekatan-pendekatan sejarah
3. Memberikan pemahaman objektif seputar fakta Sejarah Peradaban Islam



D. Pokok Bahasan

1. Pengantar Sejarah Peradaban Islam
a. Pengertian Sejarah
b. Metodologi Penulisan Sejarah
c. ilmu dasar sejarah
d. periodesasi sejarah dalam islam
e. maanfaat atau urgensi mempelajari sejara peradaban islam
2. Peradaban Islam Rasulullah Periode Makkah (610 – 622 M)
a. Peradaban Arab Sebelum Islam
b. Dakwah Makkah Nabi Muhammad
c. Pembentukan Sistem Sosial di Makkah

3. Peradaban Islam Rasulullah Periode madinah (622 – 632 M)
a. Arti Hijrah Nabi ke Madinah
b. Dasar Berpolitik Negeri Madinah
c. Piagam Madinah: Darussalam dan Darul Islam

4. Periode Khulafaur Rasyidin (632 – 661 M)
a. Pembentukan Kekhilafahan dan Sistemnya
1. Abu Bakar (632 – 634 M)
2. Umar bin Khattab (634 – 644 M)
3. Utsman bin Affan (644 – 656 M)
4. Ali bin Abi Thalib (656 – 661 M)
b. Tipe Kepemimpinan Khalifah
c. Kontribusi Khalifah dalam Peradaban Islam

5. Dinasti Umayyah (661 – 750 M)
a. Pendirian Dinasti Umayyah
b. Pola Pemerintahan Dinasti Umayyah
c. Ekspansi Wilayah Dinasti Umayyah
d. Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Umayyah

6. Dinasti Abbasiyyah (750 – 1258 M)
a. Pendirian Dinasti Abbasiyyah
b. Pola Pemerintahan Dinasti Abbasiyyah
c. Ekspansi Wilayah Dinasti Abbasiyyah
d. Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyyah

7. Islam di Andalusia (Spanyol)
a. Sejarah Penguasaan Islam di Spanyol
b. Kemajuan Peradaban Islam Spanyol
c. Kemunduran Peradaban Islam Spanyol

8. Tiga Kerajaan Besar
a. Turki Usmani hingga Mustafa Kemal (1300 – 1922 M)
b. Dinasti Safawi Persia hingga Khumaini (1501 – 1732 M)
c. Dinasti Mugal India hingga Terbentuknya Bangladesh

9. Peradaban Islam Asia Tenggara
a. Sejarah Islam di Asia Tenggara
b. Kemajuan Agama Islam Asia Tenggara
c. Moderenisasi Islam Asia Tenggara

10. Peran Walisongo dalam Peradaban Islam Indonesia
a. Walisongo dan Dakwah Islam
b. Model Penyebaran Islam Walisongo
c. Kemajuan Islam Periode Walisongo

11. Peradaban Islam Indonesia Pra Kemerdekaan
a. Teori Kedatangan Islam di Indonesia
b. Sejarah Awal Masuknya Islam Indonesia
c. Agama dan Kekuatan Politik Masa Kolonialisme

12. Peradaban Islam Indonesia Pasca Kemerdekaan
a. Islam Indonesia dalam Masa Revolusi
b. Peran Islam dalam Kemerdekaan
c. Peradaban Islam dan Negara Pancasila



E. Referensi Pokok

• Azyumardi Azra, Historiografi Islam Kontomporer: Wacana Aktualitas dan Aktor Sejarah, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002.
• Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyyah II, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2003.
• Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2009.
• Jaih Mubarak, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: CV Pustaka Islamika, 2008.
• K. Ali, Sejarah Islam (Tarikh Pramodern), Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2003.
• M. Abdul Karim, Islam Nusantara, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007.
• M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007.
• Moh Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam, Malang: UMM Press, 2004.
• Musyarifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2005.



F. Sistem Perkuliahan

1. Ceramah
Dosen memberikan penjelasan dalam perkuliahan ketika membuka mata kuliah dan klarifikasi persoalan dalam perjalanan diskusi kelas.


2. Presentasi
Semua mahasiswa wajib mempresentasikan makalah yang dibuat secara individu atau kelompok(tergantung kuantitas mahasiswa). Presentasi dilakukan secara berkelompok sesuai dengan urutan pokok bahasan mata kuliah. Dalam presentasi makalah diperbolehkan menggunakan alat bantu LCD dengan menyajikan presentasi power point (minimal 5 halaman) yang menayangkan point-point makalah. Khusus untuk slide power point dapat dibuat oleh perwakilan kelompok.

3. Resitasi (Tugas)

• Membuat makalah dengan format tema sesuai daftar bab dalam silabus (minimal 8 halaman font times new roman spasi 1,5 dengan menggunakan 4 buku referensi)—disertai dengan halaman sampul
• Makalah dikumpulkan kepada Dosen setiap maju presentasi dan difotocopy kepada suluruh mahasiswa
• Makalah dipresentasikan di depan kelas secara berurutan

4. Mid-Semester dan Ujian Akhir Semester
Waktu dan tempat ujian Mid-Semester dan Ujian Akhir Semester ditentukan oleh Fakultas Tarbiyah. Soal Mid-Semester dan Ujian Akhir Semester disiapkan Dosen dengan mengambil materi-materi kuliah yang telah didiskusikan dalam kelas.


G. Sistem Evaluasi

Perkuliahan ini akan memberi bobot nilai pada komponen-komponen berikut:
a. Kehadiran 10%
b. Tugas Individu 10%
c. Keaktifan dalam perkuliahan (diskusi) 10%
d. Ujian Tengah Semester 30%
e. Ujian Akhir Semester 40%
Tambahan:
a.       Dosen pembimbing mata kuliah tidak bisa membuat nilai untuk para mahasiswa, tapi mahasiswalah yang membuat nilainya sendiri. Nilai anda tergantung pada usaha anda.
b.      Untuk mahasiswa yang mengikuti mata kuliah SPI, diharapkan untuk berpakaian rapi dan sopan sesuai dengan etika dan budaya islami.